Perekrutan

Ada hal yang menjadi viral di banyak media sosial saat ini. KArena danya statement dari kepala suatu lembaga yang menyatakan bahwa tidak akan ada lagi perukrutan pegawai tetap untuk pemerintah terutama untuk calon guru. Mereka beranggapan bahwa menjadi tetap tidak akan menjadi tetap pada daerah yang kekuarangan pengajar, Namun kebiasaan dari dulu bahwa sang pengajar tersebut pasti akan melakukan mutasi ke daerah asalnya untuk bisa dekat dengan keluarga. MEreka menjadi lebih memilih untuk keluarga dari pada menjadi abdi negara. Awalnya saja yang memiliki integritas tinggi, namun karena ada kesempatan sekalipun itu berbasar dengan cara bawah tanah, mereka akan melakukannya dengan baik.

Yang menjadi pertanyaan adalah, sbegitu berartikah pekerjaan itu. Apakah mereka tidak memilih untuk menjadi diri sendiri dengan lama-lama berkuliah bertahun-tahun hanya untuk satu pekerjaan yang memang pendapatannya tidak seberapa?

kemana saja mereka selama ini untuk belajar dan mengabdi ?

Ada banyak sekali cara untuk menjadi orang yang berguna dan mendapatkan hasil yang lebih dari itu?

Jawabannya, mungkin karena malas mencari, dan lebih enak mengikuti daripada membuat suatu perubahan. Anak muda juga lebih mementingkan status sosial karena desakan orangtua daripada menjadi manusia itu sendiri. Mungkin benar adanya. Menjadi orang lain untuk menyenangkan orang lain saat ini bukanlah suatu hal yang aneh. Bahkan semua orang beranggapan bahwa menghasilkan harus bekerja diluar rumah, wajib hukumnya. MEreka tidak menyadari bahwa teknologi yang mereka genggam setiap harinya adalah aset yang paling berharga dan bukannya suatu liabilitas ataupun hanya sebagai alat konsumtif.

Namun, tetap saja, beda orang beda pendapat dan beda juga caranya

Liburan

Tahun ini menjadi tahun liburan yang paling panjang. Banyak hal yang tertunta karena adanya satu virus yang mengacaukan dunia. Bukan hanya virusnya yang membandel, orang gila pun juga semakin parah dibuatnya. Orang-orang yang tidak mengerti akan adanya hari akhir dan menjadikan dirinya budak dunia. MEreka terus saja menyalahkan orang lain tanpa melihat diri sendiri. Selalu saja, mereka tidak mengerti bahwa banyak orang yang merana karena adanya serangan biologis, namun mereka masih tidak belajar.

Lucunya orang-orang gila tersebut justru berasal dari keluarga terpandang di masyarakat awam. Orang yang memiliki pendidikan formal yang selangit. Orang yang selalu saja berusaha untuk menjadi kaya, tapi untuk keluarganya saja. MEreka seperti tidak mengerti akan pentingnya kehidupan bersama atau mati bersama. Lagi-lagi karena mereka mungkin gila.

Di satu sisi mereka seperti malaikat yang memiliki mulut dan ucapan yang manis. Namun di banyak sisi mereka menghisap darah saudara sendiri. Secara terang-terangan mereka mengambil hak orang lain tanpa pandang bulu. Mereka sudah menderita, namun masih saja diperas dan dipermainkan. BAntuan ini itu hanya menjadi tameng untuk dirinya agar dikenal orang lain.

Sudahkah kita mengecap jahat orang tersebut. Jika tidak bisa bertindak, juga tak bisa menasihati. MEngutuk orang jahat itu hanya menjadi jalan terakhir. BUkan hanya diam. Tapi doakan saja mereka segera toabt, atau bisa saja segerakan saja kita ke surga.

Pendekatan

Karena Wabah Covid-19 ini, sehingga terpikirkan untuk membuka kantor sendiri yang lebih bisa menjaga jarak dan tentunya bisa menjaga emosi. Memang menjadi kebiasaan, di instansi hampir apapun pasti ada orang menganggap dirinya lebih baik dan patut disegani hingga mampu menyuruh orang lain sesuai kehendak mereka. Sangat tidak profesional sekali. Mereka bahkan tidak mengerti tujuan dari instansi yang mereka duduki tersebut.

Dengan adanya peraturan menjaga jarak dan waktu kerja yang diberi selang-selang. Maka produktivitas akan menurun dengan sendirinya. Juga tentunya pekerjaan ini juga sebenarnya tidak banyak menuntut pertemuan. Yang penting administrasi lancar saja. Lucunya, administrasi yang telah disediakan secara digital, masih saja menggunakan kertas dan cara-cara lama. Sungguh menambah beban pekerjaan. Mereka lagi-lagi tidak mau belajar sedikit pun. Padahal tinggal klik saja, kok begitu susah. Memang, maunya dituruti saja keinginan mereka. Tanpa disadari bahwa uang yang mereka makan itu adalah uang bersama dan negara, bukan investasi bapaknya!

Lebih baik mengubah diri sendiri, dari pada berfokus pada orang gila yang harus diberi makan itu. Menyewah sebuah rumah bukanlah hal yang murah dan gampang. Apalagi jika rumah terasa begitu sepi dan tidak terjaga. Namun karena yakin produktivitas akan terjaga atau bahkan naik jika adanya tanggung jawab. Mencoba lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

Membuat keputusan untuk memiliki rumah kantor menjadi pilihan pertama, karena selain efisien dan juga efektif. Jika dirasa jenuh di kantor yang penuh dengan rahasia pribadi, pergi saja ke rumah kantor untuk bekerja yang tentu saja akan menjadi lebih tenang dan bisa bekerja dengan lebih efektif lagi. Bisa juga mencari pendapatan lain dengan menambah skil tentunya.

Jika dirumah sering sekali malas bergerak, dengan adanya rumah kantor yang berbayar mahal, tentu saja akan ada rasa tanggung jawab untuk membuat perubahan yang lebih baik lagi. Harapannya, bisa bekerja dan berkarya lebih dari sebelumnya.

Pandangan pertama adalah dekat dengan perkotaan akan lebih terasa persaingannya, tidak tidurnya atau dengan aktifitas yang di luar dugaan. Ternyata, hampir sama di pinggiran kita, yang tenang dan cenderung aman. Namun tetap harus hati-hati, karena banyak kriminal yang tetap membutuhkan uang untuk berfoya-foya karena merasa dirinya tidak dihargai orang lain.

Perbedaan lainnya adalah adanya tempat makan 24 jam, yang walaupun tidak sepenuhnya seperti itu, akan ada-ada saja alasan untuk tidak mendapatkan makanan itu. Mungkin karena korona. Juga yang tidak berbeda adanya masih banyaknya tempat kumuh. Dimana pemerintah kota? kenapa di tengah perkotaan masih begitu banyak tempat yang kumuh, yang sampahnya sudah tidak tahu lagi harus diapakan dan juga rumah-rumah yang seperti asal bangun dan tidak ditempati dengan baik.

Bukankah begitu banyak orang yang membutuhkan rumah, mereka sampai setiap hari relah berpencar di jalan untuk menerima orang memberikan uang atau nasi. Siapa yang patut dipertanyakan dalam hal ini? orang yang tidak bersyukur atau orang yang tidak bisa bekerja?

Orang-orangan

Asal ada

Sudah berapa kali orang melakukan kesalahan yang selalu saja dianggap benar dan lucunya orang lain yang tidak tahu menganggapnya juga benar. Biasanya orang tersebut tentunya punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain tersebut. Dan dalam bahasa lainnya orang terpaksa meng iya kan kata orang yang berpengaruh tersebut karena ingin dilihat. Dan orang tersebut biasa disebut dengan penjilat.

Banyak sekali contoh yang ada di lapangan, terutama saat bekerja dengan orang lain. Sebenarnya tidak masalah jika pekerjaan tersebut memang punya dirinya atau rintisannya sendiri bersama teman atau keluarganya. NAmun Lucunya jika itu instansi punya rakyat bersama aka pemerintah. Mereka sebenarnya sangat tidak layak melakukan hal tersebut. Uang yang mereka makan dalam kehidupan keseharian itu adalah uang bersama dari keringat orang-orang yang bekerja dengan hasil dan karya bukan cuma laporan-laporan.

Mereka memang orang yang zolim dengan diri mereka sendiri dan tentunya orang lain yang seharusnya mendapatkan pekerjaan itu. Mereka tidak mau belajar hal yang dibenarkan, mereka hanya akan melakukan apa kehendak perutnya saja. Memang, lebih hina dari binatang.

Memohon ketika butuh, namun acuh ketika tak butuh. Mereka memang tidak selayaknya mendapatkan pekerjaan itu karena telah merugikan negara dan masyarakat umum. Mereka tidak mengerti tentang arti berbagi dan hanya ingin enaknya sendiri.

Namun, memang sangat sulit mengubah keadaan. Tapi, berarti masih ada kesempatan untuk memusnahkan mereka. JIka memang sikap tidak bisa lagi diubah. Cukuplah jahat yang hancur yang akan mengingatnya akan jiwanya yang rapuh tersebut.

Dengan alasan yang benar, bisa saja mengubah keadaan tersebut dengan sebaik-baiknya. dengan sebelumnya melakukan cara untuk mengubah keadaan dengan digital yang saat ini sedang sangat mudah untuk dilakukan.

Mencoba

Kali ini akan berusaha keluar dari keterpurukan yang selalu melanda hal yang tak pasti. Ketika orang lain banyak yang berargumen untuk menjadi lebih baik, namun hanya sebatas dibagikan di media sosial. Tak sedikit juga orang yang tidak berkata namun selalu bergerak dalam berkarya.

Setiap orang punya hal yang baik untuk dilakukan disetiap harinya. Pasti ada hal yang baik di dunia ini, walupun memang sebenarnya dunia itu selalu menipu dan manusia selalu berbuat salah. Namun pasti selalu ada berkah dan hikmah di dalamnya, insyaallah.

Perbaikan

Saat ini sudah mulai masuk musim hujan. banyak diantara kita yang bersiap-siap akan datangnya musim ini. Tapi kalau di Indonesia, kebanyakan orang tidak peduli dengan musim ini. Karena sama saja seperti saat musim kemarau, bedahnya kalau musim hujan sering ada banjir dadakan saja.

Sebenarnya, kalau dilihat atau menjelajahi dunia ini yang cukup sempit namun luas ini, orang yang hidup di musim yang lebih beragam jauh lebih siap dalam menghadapi keadaan dan cuaca yang ekstrim. Mereka takut jika mati kedinginan pada umumnya. Sehingga mereka lebih berusaha untuk menyelesaikan semua kegiatan pada musim panas yang bisa beraktifitas lebih banyak di luar rumah.

Contoh saja perumahan yang ada. Mereka membangun rumah dengan begitu banyak perhitungan yang matang dan beraneka macam ahli dilibatkan dalam satu proyek. Sedangkan kita, developer perumahan semuanya satu pintu dan satu ahli. Atau mungkin tidak ada developer sekalipun, yang ada hanyalah ahli keuntungan dan menutup kerugian sebisa mungkin.

Lihat saja, contoh banyak perumahan di Indonesia yang asal bangun dan banyak cacatnya. Banyak orang yang mau rugi untuk membeli rumah di pinggiran kota. Mereka menganggap sawah adalah tempat yang tidak elit dan bonafid. Mereka lebih suka hidup di tengah keramaian kota yang berhimpit-himpitan daripada tenang menjalani kehidupan pedesaan yang penuh dengan keheningan dan suara hewan.

Untungnya saat ini telah ada beberapa anak yang mudah yang peduli dengan lingkungan hidup yang lebih manusia. Mereka sadar akan pentingnya pertanian yang tetap mengedapankan kehidupan perkotaan yang cukup padat penduduk. Mereka juga sadar akan pentingnya makanan pokok kita yang paling sering digunakan yaitu beras. Terutama di saat pandemi covid ini yang entah kapan berakhirnya. Kehidupan pertanian menjadi salah satu sektor yang tidak memiliki dampak yang signifikan.

Bandingkan saja dengan sektor pariwisata yang sangat memiliki dampaknya.

Sebagai generasi mudah, saat ini sudah saatnya untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama manusia dan juga lingkungan hidup. Paling tidak diantara kehidupannya sendiri. Cukup sulit memang membujuk banyak manusia yang berbeda latar belakang untuk peduli terhadap lingkungan. Apalagi dengan orang yang memiliki pendidikan dan pengetahuan yang sedikit tapi mengganggap dirinya hebat. Orang-orang yang terbiasa hidup hedon tanpa tahu sulitnya menghidupi orang lain atau sekedar mencari sesuap nasi.

Namun yang pasti, yang harus diketahui bahwa saat ini sudah cukup banyak anak muda yang mau berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain. Mereka menjadi penggerak dan role model untuk orang muda lainnya dan akhirnya akan bisa menggerakkan banyak masa untuk melakukan perubahan.

Saatnya untuk melakukan perubahan dan siap untuk menghadapi segala kondisi perubahan yang tidak menentu seperti saat ini. Bergerak sendiri lebih baik daripada harus menunggu banyak orang atau teman baru bisa berusaha.

Seberapa

Jika mendengar kata berapa, yang terngiang pertama kali di kepala adalah jumlah. berapa banyak.

Di dunia ini ternyata banyak sekali godaan, jika tidak mempelajarinya secara menyeluruh akan adanya hubungan yang tidak baik dan tentu saja saling menyalahkan. Banyak orang yang tidak mau disalahkan tapi jika menyalahkan orang lain begitu kasarnya.

Mungkin, manusia sudah lupa, bahwa dirinya adalah sumber permasalahan yang sebenarnya. Dahulu, bumi ini hanya dihuni oleh tumbuhan dan hewan yang telah memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Semua saling menyatu dan membantu satu sama lain.

Lalu, muncullah manusia yang terbuat dari saripati tanah yang hina. Mereka awalnya berada di surga yang penuh dengan kenikmatan. Namun, ada satu larangan yang telah diingatkan kepadanya. Tapi, ada makhluk lain yang bernama iblis yang mengajak kepada kemungkaran. Sebenarnya manusia bisa saja menghindar dan beranak pinak di surga dengan tenang. Namun, basa-basi dan janji manis telah membutakan mereka. Sepasang kekasih yang sengaja diciptakan untuk penghuni surga itu terjerumus dalam kesalahan.

Namun, pada saat itu juga mereka bertaubat dan mengaku salah. Mereka kemudian dihukum di bumi ini untuk menjalani ujian. Mereka seperti sebuah permainan yang harus diwariskan. Banyak yang telah berbuat kesalahan, namun banyak juga yang telah memperoleh kebaikan dan melakukannya tanpa tahu sebabnya.

Manusia saat inilah yang telah merusak bumi. Banyak sekali yang lupa akan tidak pentingnya kemewahan dunia ini. Dunia ini sebenarnya telah hancur sejak nenek moyang pertama klai menginjak bumi ini. Mulai dari merusak tumbuhan untuk pakaian dan membuat rumah. Membunuh binatang untuk bertahan hidup yang dijadikan energi tubuh. Mengubah tempat ekosistem. Merusak kejernian air dan udara. dan sebagainya.

Manusia, dan pasti juga manusia yang sedang mengetik ini pernah dan pasti akan tetap melakukan kesalahan. Karena manusia memang tempatnya salah dan lupa. Namun, ada hal yang paling berwibawa dan bagaikan berlian yang susah didapatkan, yaitu mengakui kesalahan dan berbuat lebih baik. Belajar itu seumur hidup, bukan hanya di sekolah saja.

Coba bayangkan, jika surga bisa di nampakan di dunia ini. Pasti ada banyak sekali orang yang ingin membelinya dengan apapun juga. MEreka tidak akan berharap apapun lagi dengan permainan dunia. Bayangkan juga jika neraka ditampakkan dalam setiap mimpinya saja, cukup hanya dimimpi. PAsti mereka akan selalu senantiasa berdoa dan meminta ampunan, jarang sekali waktu mereka dari menjalani kenikmatan dunia yang sangat menipu ini.

Tetapi,… memang iblis telah berjanji untuk merusak iman manusia dari awal manusia diciptakan. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah keluarga kalian telah mengerti konsep sederhana ini. Atau, keluarga kalian masih menganggap dunia tetap harus diprioritaskan. KArena malu dengan tetangga.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai