Tuntutan

Pembelajaran digital atau menjadi pelajar digital?

Sebenarnya saat ini adalah saat yang sangat memaksa setiap individu sampai pemerintah untuk melakukan revolusi pembelajaran. Tidak melulu harus datang ke sekolah untuk mengenyam pendidikan, namun bisa juga di rumah masing-masing untuk mendapatkan pengajaran yang berkualitas. Namun akan banyak tantangan dimana banyak siswa yang belum bisa menggunakan teknologi dengan bijak. Bukan hanya itu, orangtua, guru dan masyarakat juga belum siap 100% dalam menghadapi pembelajaran yang serba digital ini.

Belum lagi pemerintah juga masih tergopoh-gopoh dalam menyediakan akses internet yang tepat sasaran dan tidak berdasarkan status ekonominya.

Banyak waktu yang seharusnya digunakan bagi pelajar muda tingkat SD dan SMP untuk lebih memahami etika belajar daripada substansi dari belajar itu sendiri. Materi bisa didapatkan kapan saja dan dari mana saja. Sedangkan contoh orang yang baik begitu jarang ditemukan. Bahkan guru pun terkadang pernah melakukan kesalahan yang pernah di contoh oleh muridnya.

Banyak hal yang harus diperbaharui dari setiap aspek. Terutama pendidikan adalah senjata terkuat dalam mengubah suatu peradaban manusia.

Pertanyaan yang muncul adalah, manusia yang mana saja yang mau melakukan perubahan?

apakah manusia yang masih santai menonton sinetron dan gosip setiap harinya dan selalu memakan makanan dari hasil yang entah darimana.

Semua tergantung dari setiap individu itu sendiri.

Be La Jar

Kehidupan ini lebih banyak belajar daripada berkelakuan. Seharusnya.

Namun banyak orang yang beranggapan bahwa belajar adalah wajib ketika sedang menjalani pendidikan formal saja. Saat ini sekolah tidak lagi mengharuskan untuk pergi ke suatu tempat yang khusus untuk belajar. Di rumah juga harus belajar tetapi harus ada perangkat lainnya yang membantu.

Sedikit sekali manusia yang mau belajar sepanjang hayatnya. Atau paling tidak memahami arti penting dari belajar itu sendiri. Membedakan yang benar dan salah saja saat ini sepertinya begitu sulit. Tidak seperti dulu yang proses pembuatan buku harus menempuh jalan yang panjang untuk bisa terbit. Saat ini banyak media pembelajaran yang bisa hadir begitu saja di dalam berbagai media dan mudah sekali untuk di akses.

Saat ini yang paling bisa dilakukan adalah mengubah diri sendiri dan akhirnya membentuk keluarga yang baik. Semua peradaban manusia berasal dari keluarga. Komunikasi harus tetap dijalankan sebagaimanapun rupanya.

Tulisan

Sudah tiga tahun terakhir ini tidak pernah lagi menulis di blog atau menyalin informasi dari situs lain ke blog pribadi. Satu sebagai motivasi dua sebagai pembawa lalu lintas internet agar bisa melihat informasi seperti apa yang disukai oleh masyarakat terpelajar. Namun makin ke sini makin sadar bahwa orang terpelajar pun akan jarang melihat hal-hal yang mereka tidak butuhkan dan hanya ter fokus pada keinginan mereka dan bakat mereka.

Berbeda dengan masyarakat pada umumnya, mereka masih mencari cara agar bisa menyamakan dunia mereka dengan dunia sinetron. Entah kenapa masih layak mereka menonton sinetron yang semakin hari semakin tidak jelas jalan ceritanya dan hanya mengandalkan emosi semata dan tidak ada fungsi khusus apalagi peran untuk menjadikan masyarakat menjadi lebih terdidik dan ber moral lagi.

Namun dalam diri pribadi tetap optimis untuk terus menulis entah akan laku di masyarakat atau pun tidak. Karena menjadi catatan tersendiri bahwa masa muda tidak dibuang untuk melihat film yang tidak penting dan menjadi kenangan di masa nanti. Dengan menulis juga nantinya akan tahu cara untuk menjadi lebih baik lagi dan tidak melulu mencari orang lain untuk mendengarkan cerita yang mungkin mereka tidak tertarik untuk mendengarnya.

Saat ini masyarakat lebih memilih untuk melihat aplikasi media sosial yang berbasis audio visual, karena lebih mudah dimengerti. Tanpa mereka sadar bahwa mereka telah menghabiskan banyak data dan waktu yang berharga hanya untuk melihat orang gerak gerak tidak jelas di depan kamera. Dan parahnya, hal ini sangat laku di pasaran. ada juga orang yang suka ngomel tidak jelas justru menjadi panutan bagi orang lain.

Ingatlah, dunia ini semakin dicari akan semakin tidak jelas dan kabur dan rasanya seperti meminum air laut atau juga menggali tanah untuk tidak bisa kembali lagi kepermukaan.

wordpress lama loading

Mungkin ada yang bisa membantu untuk menjawab pertanyaan ini.

Mengapa loading wordpress sangat lambat, tidak seperti pesaingnya blogger yang gercep.

keuntuungan dari wordpress adalah sebagai catatan pribadi karena tidak tersedia fitur eso dalam wordpress standar yang gratis. namun lama-lama kesal juga menggunakan aplikasi web internet berbasis blog ini karena sangat lambat untuk membuka blog biasa yang sangat standar dan bahkan tidak ada gambarnya. apa yang membuat wordpres begitu lambat. Apakah karena bandwith dari server pusatnya yang tidak lagi diupdate karen tidak selaris yang punya gugel.???

Sewa

Dalam beberapa tahun terakhir ini selalu saja dihantui dengan keadaan finansial dan juga kebutuhan primer yang berupa papan. Tempat berlindung menjadi sangat penting untuk bisa dimiliki, jadi selalu saja membayangi di setiap waktu. Apalagi sekarang ini banyak sekali tawaran KPR yang begitu murah dan siapapun hampir bisa mendapatkannya. Bahkan tukang ojek sekalipun. Namun, jika diperhitungkan, bunganya begitu besar dan bahkan jika dihitung hampir mendekati 80 persen dari harga pinjaman bank. Belum lagi harga yang lain-lain yang harus dibayarkan kepada developer dan petugas hukum pencatatan. Susah sebebarnya mendapatkan aset yang hanya dipakai untuk tidur atau istirahat melepas penat setelah seharian bekerja di luar rumah.

Banyak hal yang harus dipertimbangkan jika ingin mengambil KPR tersebut. Coba kita uraikan satu persatu yang saya tahu:

Pertama, biaya akad dan lain sebagainya. Biasanya biaya ini berkisar antara 3 juta sampai 15 juta rupiah. Belum lagi ada biaya terima kasih dan biaya operasional yang biasanya orang Indonesia tidak enakan jika tidak memberi uang tersebut. Katanya sih, uang ini adalah uang kesepakatan bersama dan terjadinya traksaksi jual beli secara kredit atau cicilan. Belum lagi biaya untuk mengajukan pinjaman ke bank. Sebelum bunga.

Kedua, biaya pembangunan yang dibayarkan kepada developer. Pihak pengembang biasanya telah memiliki kerja sama dengan parah tukang ahli yang bisa membangun rumah. Juga dengan bahan bangunan yang telah ditetapkan sebelumnya. Terutama untuk desain biasanya menjadi sangat pasaran dan tidak bisa diubah sebelum rumahnya lunas. Biaya ini sangatlah jauh berbedea dari pada menggunakan tukang biasa, baik per jam maupun borongan. Bahan bangunan yang digunakan juga biasa kelas 3 atau kelas standar yang paling biasa di kalangannya. Pihak pembeli rumah juga tidak bisa mengawasi lajurnya perkembangan bangunan rumah miliknya sendiri. Satu sisi dari sistem ini adalah pemilik rumah tidak perlu repot-repot menyediakan waktu dan tenaga untuk mengawasi tukangnya. Hanya itu segi positifnya.

Ketiga, biaya yang bertambah akibat mengangsur di bank. Kata lainnya adalah bunga. Bahasa yang paling menyadarkan diri adalah riba. Banyak orang yang dengan mudahnya mengambil kredit bank yang jelas-jelas memiliki pertambahan nilai atau riba yang menurut Islam telah diharamkan. Tapi, karena keterpaksanan dan lain sebagainya, mereka relah mengambil uang tersebut demi mendapatkan rumah yang bisa ditinggalin. Banyak juga yang malu untuk tetap tinggal bersama dengan orangtua dan lain sebagainya. Biaya ini adalah yang paling besar dan juga yang paling lama yang harus dibayar setiap bulannya. Paling singkat adalah 10 tahun. Saya tidak paham betul bagaimana sistem riba di negeri ini. Namun yang jelas, utang tetaplah utang. Walaupun katanya jika yang berutang meninggal dunia, semua utangnya akan di lunaskan. Mungkin dari segi sistem Iya. Tapi pada hakikatnya utang tetaplah utang yang harus di bayarkan. Seorang yang gugur dalam perang dan mati sahid saja amalnya akan mengambang jika masih memiliki utang. Bagaimana dengan riba?

Lalu, apa solusi dari tidak mengambil rumah riba?

Jawaban paling mudah adalah dengan tidak melakukan riba. Tapi tentu saja akan banyak orang yang tidak akan puas dengan jawaban ini. Mereka adalah manusia yang membutuhkan tempat berlindung untuk istirahat sebagai salah satu kebutuhan primer selain pangan dan sandang. Hal ini tidak bisa dianggap gampang.

Jawaban lainnya yang paling tidak bisa dibenarkan dari banyak kalangan adalah dengan belajar. Karena, banyak yang beranggapan bahwa belajar adalah aktivitas yang hanya bisa dilakukan secara formal di sekolah atau informal di tempat kursus. Dan tentu saja, jika belajar hanya dilakukan di dua bidang tersebut akan membutuhkan biaya lagi untuk mendapatkan ilmu. Banyak yang beranggapan bahwa belajar adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang didahului dengan melamar pekerjaan.

Sangat miris sebenarnya melihat fakta ini. Namun ini lah yang terjadi di negara ini. Akhirnya, orang akan melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai dari pada membangun keterampilan diri untuk membuat pekerjaan itu sendiri. Juga, yang lebih parahnya adalah bekerja di sektor yang mereka akui adalah sektor riba. Namun, lagi-lagi dengan alasan demi mempertahankan hidup, mereka melakukan pekerjaan tersebut. Walaupun sebenarnya mereka melakukannya lebih kepada tuntutan sosial daripada pribadi.

Jawaban lainnya yang hampir bisa diterima oleh kalangan banyak adalah dengan menyewa rumah. Tapi, tetap saja ada adu argumen dalam hal ini. Orang-orang akan beranggapan lebih baik menyicil rumah dari pada menyewa rumah karena masalah kepemilikan. Biasanya, rumah disewa dengan harga tahunan berkisar 10juta keatas. atau 800ribu perbulan. Sedangkan jika menyicil rumah harganya tidak jauh dari itu atau bahkan lebih murah. Belum lagi jika menyewa rumah akan ada biaya untuk air dan listrik dan juga perbaikan rumah dan desain rumah yang disesuaikan dengan pengguna yang harga renovasinya lumayan mahal jika untuk memperbaiki rumah orang lain. Berbeda dengan menyicil rumah, karena statusnya sudah milik pribadi dengan utang, bebas membuat rumah sesuai dengan keinginan dan hasilnya untuk diri sendiri.

Bagaimana dengan pendapatmu? apakah demikian juga?

Cobalah melakukan jalan-jalan di area kumuh. Pemukiman tersebut biasanya ditempati oleh orang yang memiliki status pemilik rumah sah dan gratis tidak di cicil lagi atau pun menyewa. Mereka sudah terbiasa dengan hidup gratis atau tanpa tantangan. Jika mereka masih menyicil rumah, biasanya ada motivasi untuk bekerja dan membayar utangnya. Belum lagi ingin merenovasi rumah agar terlihat lebih modern dan kekinian. Sedangkan yang masih menyewa rumah, mereka akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa membeli rumah secara kontan. Menabung untuk kebutuhan pengeluaran harian dan dikumpulkan untuk membeli aset secara bertahap agar bisa membangun rumah sesuai dengan keinginan.

Banyak sekali sebenarnya hal gratis yang tidak dihargai oleh masyarakat di negeri ini. Lihat saja, makanan gratis yang sering dibagikan. Mereka dengan mudahnya berpura-pura menjadi pengemis dan mendapatkan banyak makanan gratis dan akhirnya sesampainya di rumah mereka menghambur-hamburkan nasi tersebut dan dipilih mana yang paling enak.

Contoh yang paling nyata saat ini adalah tanaman jenis keladi berdaun unik. Lihat saja dulu ketiga tidak dihargai, keladi tersebut disebut tanaman hama dan pengganggu. Namun setelah banyak pakar dan orang yang bilang tanaman ini bagus dan terlihat modern, langsung banyak orang yang menanam tanaman ini bahkan membelinya dengan harga yang fantastis. Tiba-tiba saja hampir ibu-ibu menjadi paham akan tanaman keladi yang mahal dan yang tumbuh liar.

Contoh yang dari dulu sampai sekarang ada adalah tempat pemberdayaan anak jalanan dan terlantar. Berapa banyak orang yang terlantar yang mengemis di jalan dibawa ke panti untuk dilakukan pembinaan. Tapi mereka berulang kali tetap melakukan hal yang pemalas tersebut karena menganggap dirinya tidak memiliki keahlian dan akhirnya mengemis setiap hari. Asal tahu saja, hasil mengemis bisa sampai ratusan ribu ribu rupiah hanya keliling-keliling di jalan. Bandingkan dengan desainer atau penulis yang harus berkeliling dunia demi mendapatkan inspirasi yang akhirnya dituangkan dalam karya. Belum tentu karyanya dibeli orang lain. Mereka juga akan menangis sejadi-jadinya jika dibawa ke panti pembinaan. Mereka merasa terhina jika hidup di panti karena dianggap orang miskin dan tidak mampu. tapi mereka tidak malu sama sekali untuk meminta-minta di jala. Mereka melakukan hal terebut karena adanya hal gratis tanpa berjuang.

Pertanyaan lanjutan adalah… apakah kalian tipe orang yang suka meminta dan berutang atau berusaha. Semua yang ada di dunia ini ada harganya. Tapi pahamilah hal tersebut dan jadilah orang penuh karya, bukan orang penuh kerja.

Menghindar

Suatu hal yang pasti dari banyaknya sistem yang ada di dunia ini adalah buatan manusia yang tidak pasti dan jelas. Walaupun ada yang sudah pasti dan jelas yang bukan buatan manusia, mereka tetap akan mencari yang buatan manusia yang mereka bisa ditakar secara lanar dan logika. Selalu saja demikian. Lucunya, banyak juga orang yang pastinya akan menghancurkan sistem tersebut secara perlahan. Pasti ada saja. Ada yang sadar, ada juga yang pura-pura gila. Hanya mementingkan diri sendiri dan selalu begitu dari setiap harinya tanpa pasti.

Tidak ada yang pasti di dunia ini, manusia memang diciptakan untuk menjadi khalifa di bumi ini, dan ini adalah sebuah ujian semata. Hasilnya tidak akan bisa diperoleh oleh dunia ini, kecuali bagi orang yang hanya percaya pada dunia saja. Yang percaya bahwa ada kehidupan abadi selain dunia ini, akan diuji begitu beratnya sampai mereka merasa bahwa diriya adalah orang yang tidak memiliki apapun selain keyakinan dalam dirinya sendiri. Kadang lucu, kadang juga mengerikan untuk dipikirkan.

Bagi orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan juga lingkungan yang mendukung untuk melakukan itu semua, mereka akan lebih mudah untuk tersenyum dan menjalani aktifitas seperti biasanya. Namun, bagi yang terlahir dari keluarga yang tidak memiliki keyakinan tersebut, mereka akan lebih susah untuk bergerak dan mencapai tujuan. Akan ada begitu banyak hal yang mereka lakukan sendiri sampai tidak tahu harus bercerita dengan siapa lagi kecuali yang maha kuasa.

Intinya, kembali kepada diri sendiri dan terus memupuk keyakinan setiap detiknya.

Lingkungan

Saat pandemi seperti ini memang lingkunga tempat tinggal menjadi suatu hal yang sangat diperhatikan. Padahal dulu rumah adalah tempat tidur dan istirahat saja, namun saat ini rumah menjadi tempat kerja dan lain-lainya.

BAgi yang berada diperumahan yang tidak padat penduduk, rumah bisa menjadi tempat ternyaman namun juga menjadikan diri malas bergerak. Juga, jika rumah terlampau jauh dari peradaban, banyak hal yang harus dilakukan sendiri.

Beda lagi dengan rumah yang terlampau padat penduduk, banyak yang masih berpikiran bahwa bekerja harus keluar rumah. Akhirnya yang WFH menjadi barang gunjingan semata.

Di saat pandemi seperti ini juga, seharusnya kita sadar bahwa perubahan saat ini memang sangat memaksa. Perubahan sosial sangat dirasakan begitu cepat dan singkat. Pekerjaan yang mengharuskan tatap muka menjadi tidak bisa lagi. KEahlian yang remote menjadi sangat dibutuhkan. Orang-orang malas menjadi terasa bahwa dirinya tidak bisa bergerak tanpa dipaksa dan suruhan.

Budaya bertemu beruba menjadi tatap layar. Teknologi memaksan untuk mendekatkan yang jauh. TIdak bisa lagi melihat orang dalam keadaan yang normal. Smeua serba tipu-tipu.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai