Dalam beberapa tahun terakhir ini selalu saja dihantui dengan keadaan finansial dan juga kebutuhan primer yang berupa papan. Tempat berlindung menjadi sangat penting untuk bisa dimiliki, jadi selalu saja membayangi di setiap waktu. Apalagi sekarang ini banyak sekali tawaran KPR yang begitu murah dan siapapun hampir bisa mendapatkannya. Bahkan tukang ojek sekalipun. Namun, jika diperhitungkan, bunganya begitu besar dan bahkan jika dihitung hampir mendekati 80 persen dari harga pinjaman bank. Belum lagi harga yang lain-lain yang harus dibayarkan kepada developer dan petugas hukum pencatatan. Susah sebebarnya mendapatkan aset yang hanya dipakai untuk tidur atau istirahat melepas penat setelah seharian bekerja di luar rumah.
Banyak hal yang harus dipertimbangkan jika ingin mengambil KPR tersebut. Coba kita uraikan satu persatu yang saya tahu:
Pertama, biaya akad dan lain sebagainya. Biasanya biaya ini berkisar antara 3 juta sampai 15 juta rupiah. Belum lagi ada biaya terima kasih dan biaya operasional yang biasanya orang Indonesia tidak enakan jika tidak memberi uang tersebut. Katanya sih, uang ini adalah uang kesepakatan bersama dan terjadinya traksaksi jual beli secara kredit atau cicilan. Belum lagi biaya untuk mengajukan pinjaman ke bank. Sebelum bunga.
Kedua, biaya pembangunan yang dibayarkan kepada developer. Pihak pengembang biasanya telah memiliki kerja sama dengan parah tukang ahli yang bisa membangun rumah. Juga dengan bahan bangunan yang telah ditetapkan sebelumnya. Terutama untuk desain biasanya menjadi sangat pasaran dan tidak bisa diubah sebelum rumahnya lunas. Biaya ini sangatlah jauh berbedea dari pada menggunakan tukang biasa, baik per jam maupun borongan. Bahan bangunan yang digunakan juga biasa kelas 3 atau kelas standar yang paling biasa di kalangannya. Pihak pembeli rumah juga tidak bisa mengawasi lajurnya perkembangan bangunan rumah miliknya sendiri. Satu sisi dari sistem ini adalah pemilik rumah tidak perlu repot-repot menyediakan waktu dan tenaga untuk mengawasi tukangnya. Hanya itu segi positifnya.
Ketiga, biaya yang bertambah akibat mengangsur di bank. Kata lainnya adalah bunga. Bahasa yang paling menyadarkan diri adalah riba. Banyak orang yang dengan mudahnya mengambil kredit bank yang jelas-jelas memiliki pertambahan nilai atau riba yang menurut Islam telah diharamkan. Tapi, karena keterpaksanan dan lain sebagainya, mereka relah mengambil uang tersebut demi mendapatkan rumah yang bisa ditinggalin. Banyak juga yang malu untuk tetap tinggal bersama dengan orangtua dan lain sebagainya. Biaya ini adalah yang paling besar dan juga yang paling lama yang harus dibayar setiap bulannya. Paling singkat adalah 10 tahun. Saya tidak paham betul bagaimana sistem riba di negeri ini. Namun yang jelas, utang tetaplah utang. Walaupun katanya jika yang berutang meninggal dunia, semua utangnya akan di lunaskan. Mungkin dari segi sistem Iya. Tapi pada hakikatnya utang tetaplah utang yang harus di bayarkan. Seorang yang gugur dalam perang dan mati sahid saja amalnya akan mengambang jika masih memiliki utang. Bagaimana dengan riba?
Lalu, apa solusi dari tidak mengambil rumah riba?
Jawaban paling mudah adalah dengan tidak melakukan riba. Tapi tentu saja akan banyak orang yang tidak akan puas dengan jawaban ini. Mereka adalah manusia yang membutuhkan tempat berlindung untuk istirahat sebagai salah satu kebutuhan primer selain pangan dan sandang. Hal ini tidak bisa dianggap gampang.
Jawaban lainnya yang paling tidak bisa dibenarkan dari banyak kalangan adalah dengan belajar. Karena, banyak yang beranggapan bahwa belajar adalah aktivitas yang hanya bisa dilakukan secara formal di sekolah atau informal di tempat kursus. Dan tentu saja, jika belajar hanya dilakukan di dua bidang tersebut akan membutuhkan biaya lagi untuk mendapatkan ilmu. Banyak yang beranggapan bahwa belajar adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang didahului dengan melamar pekerjaan.
Sangat miris sebenarnya melihat fakta ini. Namun ini lah yang terjadi di negara ini. Akhirnya, orang akan melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai dari pada membangun keterampilan diri untuk membuat pekerjaan itu sendiri. Juga, yang lebih parahnya adalah bekerja di sektor yang mereka akui adalah sektor riba. Namun, lagi-lagi dengan alasan demi mempertahankan hidup, mereka melakukan pekerjaan tersebut. Walaupun sebenarnya mereka melakukannya lebih kepada tuntutan sosial daripada pribadi.
Jawaban lainnya yang hampir bisa diterima oleh kalangan banyak adalah dengan menyewa rumah. Tapi, tetap saja ada adu argumen dalam hal ini. Orang-orang akan beranggapan lebih baik menyicil rumah dari pada menyewa rumah karena masalah kepemilikan. Biasanya, rumah disewa dengan harga tahunan berkisar 10juta keatas. atau 800ribu perbulan. Sedangkan jika menyicil rumah harganya tidak jauh dari itu atau bahkan lebih murah. Belum lagi jika menyewa rumah akan ada biaya untuk air dan listrik dan juga perbaikan rumah dan desain rumah yang disesuaikan dengan pengguna yang harga renovasinya lumayan mahal jika untuk memperbaiki rumah orang lain. Berbeda dengan menyicil rumah, karena statusnya sudah milik pribadi dengan utang, bebas membuat rumah sesuai dengan keinginan dan hasilnya untuk diri sendiri.
Bagaimana dengan pendapatmu? apakah demikian juga?
Cobalah melakukan jalan-jalan di area kumuh. Pemukiman tersebut biasanya ditempati oleh orang yang memiliki status pemilik rumah sah dan gratis tidak di cicil lagi atau pun menyewa. Mereka sudah terbiasa dengan hidup gratis atau tanpa tantangan. Jika mereka masih menyicil rumah, biasanya ada motivasi untuk bekerja dan membayar utangnya. Belum lagi ingin merenovasi rumah agar terlihat lebih modern dan kekinian. Sedangkan yang masih menyewa rumah, mereka akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa membeli rumah secara kontan. Menabung untuk kebutuhan pengeluaran harian dan dikumpulkan untuk membeli aset secara bertahap agar bisa membangun rumah sesuai dengan keinginan.
Banyak sekali sebenarnya hal gratis yang tidak dihargai oleh masyarakat di negeri ini. Lihat saja, makanan gratis yang sering dibagikan. Mereka dengan mudahnya berpura-pura menjadi pengemis dan mendapatkan banyak makanan gratis dan akhirnya sesampainya di rumah mereka menghambur-hamburkan nasi tersebut dan dipilih mana yang paling enak.
Contoh yang paling nyata saat ini adalah tanaman jenis keladi berdaun unik. Lihat saja dulu ketiga tidak dihargai, keladi tersebut disebut tanaman hama dan pengganggu. Namun setelah banyak pakar dan orang yang bilang tanaman ini bagus dan terlihat modern, langsung banyak orang yang menanam tanaman ini bahkan membelinya dengan harga yang fantastis. Tiba-tiba saja hampir ibu-ibu menjadi paham akan tanaman keladi yang mahal dan yang tumbuh liar.
Contoh yang dari dulu sampai sekarang ada adalah tempat pemberdayaan anak jalanan dan terlantar. Berapa banyak orang yang terlantar yang mengemis di jalan dibawa ke panti untuk dilakukan pembinaan. Tapi mereka berulang kali tetap melakukan hal yang pemalas tersebut karena menganggap dirinya tidak memiliki keahlian dan akhirnya mengemis setiap hari. Asal tahu saja, hasil mengemis bisa sampai ratusan ribu ribu rupiah hanya keliling-keliling di jalan. Bandingkan dengan desainer atau penulis yang harus berkeliling dunia demi mendapatkan inspirasi yang akhirnya dituangkan dalam karya. Belum tentu karyanya dibeli orang lain. Mereka juga akan menangis sejadi-jadinya jika dibawa ke panti pembinaan. Mereka merasa terhina jika hidup di panti karena dianggap orang miskin dan tidak mampu. tapi mereka tidak malu sama sekali untuk meminta-minta di jala. Mereka melakukan hal terebut karena adanya hal gratis tanpa berjuang.
Pertanyaan lanjutan adalah… apakah kalian tipe orang yang suka meminta dan berutang atau berusaha. Semua yang ada di dunia ini ada harganya. Tapi pahamilah hal tersebut dan jadilah orang penuh karya, bukan orang penuh kerja.