Baru tahu kalau Islam pernah memasuki masa keemasan dalam ilmu pengetahuan. Nama-nama timur tengah menjadi sangat terkenal di dunia berkat pemikiran yang dibukukan oleh mereka. Bahkan, sampai dengan saat ini nama tersebut begitu melekat dalam pelajar tinggi di manapun berada. Contohnya ibnu sina, ibnu rush dan ibnu khaldun. Namun saat ini, Islam begitu dekat dengan ketertinggalan, terutama dalam hal iptek, perekonomian juga menjadi semakin surut dan melemah.
Ada hal yang mengatakan bahwa kemajuan teknologi pada masa lampau disertai dengan dukungan dari para pedagang. Juga dalam hal kedekatan dengan penguasa begitu renggang dan sangat berjarak. Karena pada masa itu banyak pemangku politik yang tidak beradab dan hanya mementingkan kebutuhan beberapa pihak saja. Para ilmuan pada masa itu benar-benar independen dalam hal pengembangan ilmu.
Namun, jika melihat kondisi saat ini. Justru, para ulama sering kali sangat dekat dengan penguasa. Bahkan menariknya, kementerian agama menjadi kementerian yang paling sering terlibat kasus korupsi. Juga dalam hal penguasa yang menduduki jabatan menteri pendidikan, bukan merupakan individu yang fokus pada pendidikan. Tidak seperti di Eropa, pendidikan yang berkualitas yaitu yang dipimpin oleh pihak swasta atau bebas dari pihak penguasa. Di Indonesia sendiri, pendidikan yang dianggap baik adalah pendidikan yang diselenggarakan dari pemerintah atau kata lainnya adalah sekolah negeri. Perguruan tinggi juga yang menduduki peringkat tertinggi di negeri ini adalah PTN.
Banyak orang yang beranggapan juga bahwa anak yang masuk ke sekolah negeri adalah mereka yang pintar, sedangkan anak yang tidak bisa masuk ke sekolah negeri dianggap tidak mampu dan akhirnya dengan terpaksa sekolah di swasta. Banyak sekali labeling-labeling yang tidak sesuai dengan fakta yang ada.
Pertanyaan yang ada karena fakta ini adalah
apakah bisa kita meyakinkan diri sendiri bahwa pendidikan di swasta juga tidak kalah baik daripada negeri?
maukah kita menyekolahkan generasi selanjutnya di sekolah swasta?
atau
maukah kita menjadi akademisi di bidang swasta?
lalu, apakah akademisi di bidang swasta bisa survive dengan akademisi yang di sokong langsung oleh pemerintah?