Pendekatan

Karena Wabah Covid-19 ini, sehingga terpikirkan untuk membuka kantor sendiri yang lebih bisa menjaga jarak dan tentunya bisa menjaga emosi. Memang menjadi kebiasaan, di instansi hampir apapun pasti ada orang menganggap dirinya lebih baik dan patut disegani hingga mampu menyuruh orang lain sesuai kehendak mereka. Sangat tidak profesional sekali. Mereka bahkan tidak mengerti tujuan dari instansi yang mereka duduki tersebut.

Dengan adanya peraturan menjaga jarak dan waktu kerja yang diberi selang-selang. Maka produktivitas akan menurun dengan sendirinya. Juga tentunya pekerjaan ini juga sebenarnya tidak banyak menuntut pertemuan. Yang penting administrasi lancar saja. Lucunya, administrasi yang telah disediakan secara digital, masih saja menggunakan kertas dan cara-cara lama. Sungguh menambah beban pekerjaan. Mereka lagi-lagi tidak mau belajar sedikit pun. Padahal tinggal klik saja, kok begitu susah. Memang, maunya dituruti saja keinginan mereka. Tanpa disadari bahwa uang yang mereka makan itu adalah uang bersama dan negara, bukan investasi bapaknya!

Lebih baik mengubah diri sendiri, dari pada berfokus pada orang gila yang harus diberi makan itu. Menyewah sebuah rumah bukanlah hal yang murah dan gampang. Apalagi jika rumah terasa begitu sepi dan tidak terjaga. Namun karena yakin produktivitas akan terjaga atau bahkan naik jika adanya tanggung jawab. Mencoba lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

Membuat keputusan untuk memiliki rumah kantor menjadi pilihan pertama, karena selain efisien dan juga efektif. Jika dirasa jenuh di kantor yang penuh dengan rahasia pribadi, pergi saja ke rumah kantor untuk bekerja yang tentu saja akan menjadi lebih tenang dan bisa bekerja dengan lebih efektif lagi. Bisa juga mencari pendapatan lain dengan menambah skil tentunya.

Jika dirumah sering sekali malas bergerak, dengan adanya rumah kantor yang berbayar mahal, tentu saja akan ada rasa tanggung jawab untuk membuat perubahan yang lebih baik lagi. Harapannya, bisa bekerja dan berkarya lebih dari sebelumnya.

Pandangan pertama adalah dekat dengan perkotaan akan lebih terasa persaingannya, tidak tidurnya atau dengan aktifitas yang di luar dugaan. Ternyata, hampir sama di pinggiran kita, yang tenang dan cenderung aman. Namun tetap harus hati-hati, karena banyak kriminal yang tetap membutuhkan uang untuk berfoya-foya karena merasa dirinya tidak dihargai orang lain.

Perbedaan lainnya adalah adanya tempat makan 24 jam, yang walaupun tidak sepenuhnya seperti itu, akan ada-ada saja alasan untuk tidak mendapatkan makanan itu. Mungkin karena korona. Juga yang tidak berbeda adanya masih banyaknya tempat kumuh. Dimana pemerintah kota? kenapa di tengah perkotaan masih begitu banyak tempat yang kumuh, yang sampahnya sudah tidak tahu lagi harus diapakan dan juga rumah-rumah yang seperti asal bangun dan tidak ditempati dengan baik.

Bukankah begitu banyak orang yang membutuhkan rumah, mereka sampai setiap hari relah berpencar di jalan untuk menerima orang memberikan uang atau nasi. Siapa yang patut dipertanyakan dalam hal ini? orang yang tidak bersyukur atau orang yang tidak bisa bekerja?

Diterbitkan oleh umaruddin93

Menulis menjadi disiplin baru

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai