Akibat dari covid-19 ini banyak sekali perubahan pada rutinitas sehari-hari. Yang pasti, pertemuan-pertemuan konvensional telah berubah menjadi pertemuan digital. Ada begitu banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan pertemuan digital. Hal yang paling sering digunakan adalah dengan video call.Banyak sekali aplikasi saat ini yang menawarkan fitur video call, dan yang paling populer adalah zoom. Sebenarnya, hal ini bukanlah hal baru bagi kalangan minelial. Sebelum adalah pandemi ini telah banyak pertemuan digital yang mereka lakukan di dunia maya. Mulai dari sekedar say hai sampai dengan rapat penting.
Penyeleksian beasiswa misalnya, seringkali pemberi beasiswa dari negara tujuan ingin melihat secara awal mengenai pelamar beasiswa yang akan diloloskan. Rapat di beberapa perusahaan besar yang menawarkan jasanya juga sering melakukan show off kepada kliennya dengan cara digital. Namun, para generasi sebelumnya sepertinya anti dengan pertemuan digital. Mereka (tua) beranggapan bahwa kehadiran adalah hal terpenting dari sebuah pertemuan, tidak masalah jika tidak ada keputusan atau isi dari rapat tersebut, yang penting hadir dulu. Ini bertolak belakang dengan generasi milenial yang lebih mengutamakan hasil dan isi dari rapat dari pada prosesnya. Karena waktu begitu cepat berlalu, dan bepergian dari rumah menuju ruang rapat sudah menghabiskan banyak waktu, belum lagi menunggu orang penting yang biasanya datangnya paling akhir dan dilambatan-lambatin.
Nah, dari pertemuan digital tersebut, banyak sekali orang yang berinisiasi untuk membuat kolaborasi digital lewat video. Ada berbagai cara untuk membuat video tersebut, mulai dari live sampai rekaman. Namun, yang paling unik adalah kemampuan editing video kebanyakan generasi milenial yang diatas rata-rata dan tidak perlu sekolah formal dan kursus sekalipun. Mereka (muda) biasanya belajar langsung dari internet, terutama youtube mengenai editing video yang baik.
Youtube saat ini telah banyak menggantikan televisi konvensional yang analog. Generasi milenial terutama yang mendapatkan akses internet yang baik, akan lebih memilih youtube daripada televisi analog. Alasannya karena lebih kekinian dan bisa memilih video jenis apapun yang sesuai dengan pribadi penonton youtube. Dari hal tersebut, lambat laun terjadilah youtuber dadakan dengan skil yang mendadak juga.
Dengan melihat youtube setiap hari, mereka menganggap bahwa membuat video tersebut adalah hal mudah. Apalagi handphone saat ini sudah cukup canggih dalam mengedit video. Mereka juga akhirnya membuat video dengan langsung cepatnya dan kontennya sering sekali diulang-ulang, bahasa lainnya adalah copas.
Youtube bukanlah hal baru sebenarnya, diawal tahun 2005 juga sudah ada. Namun youtube menjadi lebih terkenal sejak diakuisisi oleh google satu tahun setelahnya. Youtube mulai booming di Indonesia sejak 2009, dimana tahun itu masih sedikit sekali youtuber asal Indonesia. Situs berbagi video itu dahulunya banyak video-video bajakan bahkan blue film. Namun seiring berjalannya waktu dan juga penyeleksian konten yang ketat, video-video tidak mendidik dan melanggar hak cipta lama-kelamaan menghilang.
Generasi milenial yang baru melihat youtube dan akhirnya suka melihat youtube akibat pandemi ini adalah generasi yang cukup terlambat. Lucunya, justru generasi terlambat inilah yang begitu banyak membuat konten asal jadi dan di upload ke youtube tanpa ilmu yang pasti. Akhirnya, banyak konten yang tidak bermutu yang bermunculan di youtube karena pandemi ini. Dan parahnya, banyak yang suka dengan video tersebut dengan alasan berbeda.
Jika melihat youtuber dari negara maju yang mana mereka membuat perusahaan khusus yang sengaja dibuat hanya untuk membuat konten youtube dan menjadi pekerjaan utama. Di Indonesia juga terdapat youtuber yang menjadikannya pekerjaan utama, namun sangat sedikit. Merekalah yang membuat konten berbeda dan berarti bagi banyak kalangan. Ilmu mereka juga tidak datang begitu saja. Setelah bertahun-tahun berada di industri konten video, mereka baru bisa cukup terkenal dengan begitu banyak sejarah video yang ada di youtube.
Perbedaan youtuber lama yang profesional dengan youtuber baru tapi beken adalah pada pendapatan dari youtube itu sendiri. Youtuber senior tentu akan mendapatkan perhatian lebih dari youtube daripada youtuber dadakan. Namun, justru yang sering muncul di trending topik adalah video-video yang hampir tidak berarti. Mungkinkah ada kesalahan pada rasa orang di negeri ini.
Entah siapa yang memulainya, pokoknya video yang viral apapun itu pasti selalu dibahas oleh youtuber senior juga. Hal ini tentu akan membuat video sampah itu semakin naik ratingnya. Istilah lainnya adalah cover. Apapun itu, yang dibahas dalam sepekan biasanya selalu sama. Dan generasi yang tertular dan menganggap hal itu adalah sesuatu yang baik adalah generasi internet.
Sudah sedewasa apa generasi milenial, sampai-sampai begitu sulit melihat konten yang baik dengan konten yang menarik dan bisa atau pantas diperlihatkan kepada generasi internet. Bagi generasi milenial yang sudah cukup berpengetahuan, tentu saja konten menarik itu merupakan hal untuk seru-seruan semata. Tapi bagi generasi internet yang masih menginjak tahap imitasi, mereka akan dengan mudahnya meniru konten tersebut. Dan mungkin lebih parah lagi, mereka akan membuat konten yang lebih sampah di masa mendatang.
bahasa lamanya bilang “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”
Semoga mengerti