Profit Maker

Akhir-akhir ini sedang melihat-melihat kisa orang-orang terdahulu yang sudah muak dengan namanya kredit. Hal tersebut adalah bahasa lain dari hutang yang entah sampai akan berakhir, terlebih hutang tersebut memilih tambahan untuk menulasinya. Pribadi juga berpendapat bahwa hutang itu adalah sifat orang yang lebih besar pasak dari pada tiang dan lebih mengutamakan gaya hidup dari pada kebutuhan hidup.Namun, lucunya, kebanyakan orang yang menyebutnya manusia normal beranggapan bahwa hal itu adalah wajar dan memang harus dilakukan. Jika tidak, maka konsekuensinya adalah tidak mendapatkan barang tersebut selama-lamanya. Kebutuhan dasar sebenarnya hanya ada tiga, sandang, pangan dan papan. Pangan adalah kebutuhan yang harus terpenuhi untuk bertahan hidup. Sandang merupakan hal yang wajib diperhitungkan, sesuai dengan gaya hidup seseorang dan kenyamanannya. Lalu papan yang sering bermasalah. Papan atau tempat tinggal yang saat ini disebut dengan rumah sepertinya dibuat bisnis yang begitu besar dan tidak pernah habisnya.

Kali ini akan berfokus pada papan. Tempat tinggal untuk istirahat sementara, tempat orang-orang membina keluarga yang merupakan cikal bakal perubahan dunia. Dahulu, rumah identik dengan kayu, karena pohon-pohon masih begitu banyak. Pohon ini ditebang dan dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan dan akhirnya dirangkai sedemikan rumah hingga terbentuk tempat yang bisa disinggahi oleh manusia. Adalah banyak tipe rumah dari bahan kayu pohon, namun yang populer adalah rumah panggung.

Rumah panggung dibuat karena bisa terhindar dari binatang liar yang saat itu masih banyak berkeliaran. Lalu jika ada hujan datang dan tanah tidak sanggup untuk menyerap dengan cepat, maka bisa terhindar dari banjir. Juga dahulu belum mengenal pondasi yang dibuat didalam tanah, jadi pondasinya berupa kayu yang begitu besar yang menjadi pasak-pasak untuk membangun rumah.

Seiring perubahan waktu, kayu mulai berganti dengan tanah yang dibakar dan mengeras layaknya batu. Batu untuk bangunan ada berbagai jenisnya, mulai dari batu bata merah, batu bata beton dan lain sebagainya. Juga dengan terbentuknya bahan bangunan yang disebut semen yang bisa bertahan lebih lama daripada menggunakan kayu yang bisa saja hilang begitu saja, seperti kebakaran atau dimakan rayap.

Rumah-rumah di Indonesia akhirnya berubah menjadi bangunan yang semi permanen. Diatasnya kayu dan dibawahnya batu dan semen. Sekarang ini telah banyak bertebaran rumah permanen yang semuanya semen dan batubata serta dilapisi lagi dengan berbagai bahan seperti marmer dan sebagainya agar rumah lebih bisa bertahan lebih lama dan menambah keindahan.

Dahulu, rumah-rumah yang terbuat dari kayu begitu besar dan luasnya. Hal ini tidak mengherankan, karena dulu masih dikenal sistem gotong royong yang sangat baik. Semua warga akan membantu warga lainnya dalam banyak hal, salah satunya adalah membangun rumah. Juga, pada masa itu, anak dari satu pasangan bisa sampai 17 orang dalam satu generasi. Tidak hanya rumah yang luas, halaman rumah dan belakang rumah juga begitu luas dengan tanaman yang beraneka ragam.

Sistem yang dikenal pada masa berburu dan pertani sepertinya sudah mulai hilang saat ini. Padahal, manusia diciptakan dari tanah dan tetap membutuhkan tanah untuk bertahan hidup. Tapi, manusia zaman modern sampai generasi internet saat ini lebih suka pekerjaan yang bersifat administrasi daripada menanam makanannya sendiri.

Di Indonesia, kebanyakan bahan makanan utama adalah nasi, dengan beberapa di daerah lainnya yang menggunakan jagung, gandum atau tepung lainnya. Seharusnya, manusia bisa sadar dengan sendiri terutama orang yang berkuasa di politik dan pemerintahan, agar membuat persediaan dan produksi makanan pokok yang begitu kompleks dan sangat terencana dengan anggaran yang besar serta bisa di import keluar negeri sebagai tambahan penghasilan negara. Namun, faktanya, orang yang menganggap dirinya penting tersebut lebih suka dengan sifat diplomasi yang entah sampai kapan berakhirnya, hutang dimana-mana seperti telah biasa. Pun pada sektor wisata dengan kekayaan dan pemandangan alam yang luar biasa ini tidak bisa dikelola dengan baik. Lagi-lagi masalah perizinan yang tidak jelas dan seolah-olah ditutup-tutupi cara agar lolos verifikasi.

Begitu banyak papan yang telah disediakan oleh pemerintah namun tidak tepat sasaran. Rumah subsidi dan sejenisnya hanya masalah asministrasi dan perbankan. Rumah permanen yang cepat rusak, jalannya juga begitu sempit dan juga fasilitas yang berbeda antara satu wilayah dengan lainnya.

Kembali lagi kepemahaman individu. Saat ini sudah sangat percuma untuk menyalahkan orang lain, bahkan pemerintah sekalipun. Sebagai manusia normal lainnya, harus pandai-pandai belajar mandiri dan menjaga lisan dan sifat pribadi agar orang lain yang menganggap dirinya manusia normal tidak tersinggung. Entah apa yang ada dibenak mereka ketika meminjam uang lebih dari seratus juta dengan penghasilan yang tidak tetap setiap bulannya. Penghasilan itu juga tidak ditabung atau dibelanjakan untuk kebutuhan pokok. Banyak manusia normal yang memilih membeli kebutuhan tersier. Atau, kebutuhan primer seperti makanan tapi ditempat yang mahal dan tidak sesuai dengan kemampuan. Atau, kebutuhan primer seperti pakaian namun harus bermerk dan terkenal, kalau bisa kredit kenapa harus lunas.

Saat ini sudah serba keliru dalam menanggapi persoalan dunia. Orang dengan gaji diatas 10 juta pun akan berpikir panjang untuk membeli kebutuhan tersier jika tidak diperlukan. Jikapun butuh, akan mencari cara dengan belajar seluk-beluk dari barang tersebut sehingga bisa mendapatkan harga yang lebih murah, walaupun barang kedua (seken istilah kekiniannya).

Rumah memanglah kebutuhan pokok. Namun, banyak manusia yang mungkin lupa bahwa rumah adalah tempat istirahat, bukan tempat pamer materi. Sebelum membuat rumah, hal yang wajib disediakan adalah lahan. Semakin besar lahan semakin bagus. Lahan juga ada beraneka ragamnya, diperkotaan jelas akan lebih mahal harganya daripada di desa. Apalagi jika kota itu cukup terkenal dan bisnisnya yang berjalan dengan baik serta terdapat fasilitas umum lainnya.

Perlu diingat bahwa, kesadaran diri akan kemampuan diri adalah kunci utama dalam memiliki sebuah tempat tinggal. Tidak perlu dengan banyak bahan yang mahal, namun harus bisa mencukup standar dari kebutuhan dasar dari rumah seperti tidak kebasahan ketika hujan dan tidak kedinginan pada malam hari serta tidak kepanasan ketika matari yang terik. Pun, bisa membersihkan diri dengan adanya kamar mandi dan persediaan air yang terorganisir dengan baik agar bisa cukup pada saat musim kemarau sekalipun.

Diterbitkan oleh umaruddin93

Menulis menjadi disiplin baru

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai